Terbit Agustus 2026Catatan personal berbasis perspektif psikologi

Sebuah perjalanan pulang kepada diri

Bagaimana jika bagian diri yang paling Anda benci sebenarnya adalah luka yang belum diberi nama?

Buku tentang luka, marah, tubuh yang selalu siaga, dan keberanian menghentikan trauma agar tidak menulis seluruh masa depan kita.

Trauma mungkin tidak pernah meminta izin ketika datang. Namun, setelah kita mampu mengenalinya, ia tidak lagi berhak menulis seluruh hidup kita.

Sampul buku Kenalkan, Sahabatku Namanya Trauma karya Andi Mahdi Sahdani
01Kisah personal
bertemu ilmu psikologi
17Bab reflektif
A5Format buku
2026Cetakan pertama
IlmiahNamun tetap personal
02Tentang Buku

Bukan buku untuk menyalahkan masa lalu

Melihat luka dengan jujur, tanpa menyerahkan masa depan kepadanya.

Sebelum mengenal kata “trauma”, trauma sudah lebih dahulu mengenal tubuh, emosi, dan cara kita membaca dunia.

Kenalkan, Sahabatku Namanya Trauma menelusuri pengalaman masa kecil yang tidak selalu tampak dramatis: candaan yang mempermalukan, rumah yang tidak sepenuhnya aman, kemarahan yang menjadi pelindung, dan kemandirian yang diam-diam lahir dari ketakutan menerima bantuan.

Kisah personal Andi Mahdi Sahdani dipertemukan dengan perspektif psikologi agar pembaca tidak hanya ikut merasakan, tetapi juga memahami bagaimana pengalaman bekerja dalam tubuh, identitas, relasi, dan keputusan.

Garis tegas buku ini

Memahami bukan berarti membenarkan. Luka dapat menjelaskan sebuah pola, tetapi tidak menghapus tanggung jawab atas dampaknya.

03Perjalanan Pembaca

Tiga gerak pemulihan

Bukan melupakan. Bukan memutihkan. Melainkan mengenali, menempatkan, lalu memilih.

01

Mengenali

Membedakan mana diri, mana luka, dan mana respons yang dahulu dibutuhkan untuk bertahan.

Luka • tubuh • emosi
02

Menempatkan

Memberi masa lalu tempat yang jujur tanpa menjadikannya identitas, pembenaran, atau pusat kehidupan.

Makna • batas • tanggung jawab
03

Memilih

Membangun respons baru dan menghentikan warisan luka agar tidak menjadi nasib generasi berikutnya.

Kehadiran • perbaikan • harapan
04Isi Buku

17 bab, satu perjalanan utuh

Dari luka yang belum bernama hingga keberanian untuk pulang.

Setiap bab bergerak dari pengalaman personal menuju pemahaman psikologis, lalu kembali kepada pilihan hidup yang konkret.

01Belum Tahu Apa-Apa+

Ketika seorang anak belum memiliki bahasa, tetapi tubuhnya sudah belajar membaca rasa tidak aman.

02Tawa yang Tidak Terasa Aman+

Tentang candaan, rasa malu, dan luka yang dianggap terlalu kecil untuk diakui.

03Luka yang Belum Bernama+

Mengenali reaksi yang lebih dulu hadir sebelum penjelasan psikologis ditemukan.

04Sahabat yang Tak Terlihat+

Imajinasi sebagai ruang aman ketika dunia nyata belum mampu menyediakannya.

05Kemarahan yang Menjaga+

Membaca marah sebagai penjaga batas tanpa membiarkannya melukai orang lain.

06Ketika Bantuan Terasa Mengancam+

Mengapa menerima pertolongan dapat terasa seperti kehilangan kendali.

07Membenci Orang Tua+

Mengakui emosi yang rumit tanpa menjadikannya alasan untuk meneruskan luka.

08Luka dari Samping+

Luka antarsaudara, politik keluarga, dan keberanian membangun batas yang sehat.

09Ketika Luka Punya Nama+

Menggunakan bahasa trauma sebagai peta, bukan sebagai identitas atau diagnosis diri.

10Semakin Paham, Semakin Marah+

Ketika pengetahuan menyingkap ketidakadilan sebelum akhirnya membuka pilihan.

11Validasi Tidak Selalu Menyelamatkan+

Merasa dipahami adalah awal, tetapi pemulihan juga menuntut arah dan tindakan.

12Ketika Bertahan Terasa Mustahil+

Memandang keputusasaan secara serius, manusiawi, dan tanpa romantisasi.

13Berhenti Memusuhi Luka+

Menciptakan jarak antara reaksi dan tindakan agar kehidupan tidak lagi dikendalikan masa lalu.

14Damai Tanpa Memutihkan+

Menerima yang terjadi tanpa membenarkan pelanggaran atau menghapus tanggung jawab.

15Cukup Sampai di Saya+

Keputusan seorang ayah untuk tidak mewariskan pola lama kepada generasi berikutnya.

16Cukup Baik untuk Hadir+

Pengasuhan yang tidak sempurna, tetapi sanggup hadir, memperbaiki, dan bertanggung jawab.

17Pulang+

Kembali kepada kejujuran, tanggung jawab, cinta yang tidak mempermalukan, kehidupan, dan Tuhan.

“Sesuatu yang dahulu melindungi tidak selalu layak dibiarkan memimpin kehidupan selamanya.”

— Andi Mahdi Sahdani

05Untuk Siapa

Buku ini mungkin sedang mencari Anda

Untuk yang lelah disebut “terlalu” tanpa pernah ditanya apa yang pernah terjadi.

01

Anda yang mudah marah, selalu siaga, atau sulit menerima bantuan dan ingin memahami sejarah di balik respons itu.

02

Anda yang sedang belajar menetapkan batas tanpa merasa bersalah atau kehilangan kasih.

03

Anda yang telah memperoleh validasi, tetapi masih bertanya mengapa hidup belum terasa lebih ringan.

04

Anda yang menjadi orang tua dan ingin menghentikan pola lama tanpa dituntut menjadi sempurna.

05

Anda yang mendampingi pasangan, keluarga, peserta pelatihan, atau klien dengan perspektif yang lebih manusiawi.

Andi Mahdi Sahdani, penulis buku Kenalkan, Sahabatku Namanya Trauma
Sejak 2017
06Tentang Penulis

Psikologi terapan & hipnoterapi

Andi Mahdi Sahdani

S.Psi., M.Sc., C.Ht., C.I.

Andi Mahdi Sahdani adalah profesional di bidang psikologi terapan dan Professional Hypnotherapist yang sejak 2017 memberikan layanan konsultasi psikologis nonklinis, pendampingan hipnoterapi, serta pengembangan diri.

Ia menyelesaikan Sarjana Psikologi di Universitas Negeri Makassar dan Master of Science dalam bidang Psychology and Islamic Counseling di International Open University. Pengalaman praktik, penelitian, pelatihan, dan perannya sebagai Training Specialist membentuk pendekatan yang ilmiah, reflektif, sekaligus membumi.

07Pertanyaan Umum

Sebelum mulai membaca

Pertanyaan yang mungkin muncul sebelum membuka halaman pertama.

Apakah buku ini mengajak pembaca mendiagnosis diri sendiri?+

Tidak. Trauma digunakan sebagai lensa untuk membaca pengalaman, bukan sebagai cap bagi setiap ketidaknyamanan. Buku ini tidak menggantikan asesmen atau bantuan profesional.

Apakah buku ini hanya relevan bagi orang yang merasa memiliki trauma?+

Tidak. Buku ini juga relevan bagi orang tua, pasangan, pendamping, pendidik, dan siapa pun yang ingin memahami bagaimana pengalaman masa lalu memengaruhi emosi, relasi, serta pilihan hari ini.

Apakah memahami trauma berarti membenarkan perilaku yang menyakiti?+

Tidak. Memahami asal suatu perilaku tidak otomatis membenarkan dampaknya. Pemahaman harus membawa manusia lebih dekat kepada tanggung jawab.

Apakah pembaca akan diarahkan untuk segera memaafkan?+

Tidak. Buku ini tidak memaksa pengampunan, rekonsiliasi, atau kedekatan yang tidak aman. Maaf, kepercayaan, batas, dan tanggung jawab ditempatkan sebagai hal yang berbeda.

Apakah buku ini merupakan pengganti terapi?+

Bukan. Buku ini adalah catatan personal yang dipertemukan dengan perspektif psikologi. Bila pengalaman traumatis mengganggu fungsi sehari-hari atau keselamatan diri, bantuan profesional tetap penting.

Sampul buku Kenalkan, Sahabatku Namanya Trauma

Barangkali ini saatnya berkenalan

Luka Anda mungkin punya sejarah. Namun, masa depan tetap membutuhkan pilihan Anda.

Mulai perjalanan untuk mengenali luka tanpa menjadikannya seluruh identitas, lalu pulang dengan kejujuran dan tanggung jawab.

Pesan melalui WhatsApp Penerbit Hypnopreneur Indonesia • Bone, Sulawesi Selatan
WAPesan Buku